berandaPeristiwa,- Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Lebanon pada Rabu, 8 April, yang menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai 1.165 lainnya. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengumumkan gencatan senjata, sehingga memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang semakin nyata.
Operasi Terkoordinasi Raksasa
Militer Israel menyatakan bahwa serangan ini merupakan operasi terkoordinasi terbesar sejak dimulainya kampanye militer mereka di Lebanon pada 2 Maret lalu. Menurut Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, target utama dari serangan ini adalah infrastruktur kelompok Hizbullah. Mereka melaksanakan serangan mendadak terhadap ratusan teroris di pusat komando di seluruh hewan. Sementara laporan menunjukkan bahwa sebagian besar sasaran berada di kawasan permukiman sipil, yang memicu kritik tajam terkait dampaknya pada warga sipil.
Dampak dan Tanggapan dari Lebanon
Sementara itu, Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menyatakan bahwa situasi di Lebanon sangat genting, dengan sekitar 100 serangan udara dalam waktu singkat. “Ambulans terus mengangkut korban ke rumah sakit. Kami mendesak organisasi internasional untuk membantu sektor kesehatan Lebanon,” ujarnya. Tuduhan Hizbullah terhadap Israel yang menargetkan wilayah sipil semakin menambah sisi konflik ini, dengan Menteri Berri bahkan menyebut serangan itu sebagai “kejahatan perang sepenuhnya.” Dengan meningkatnya tekanan politik dan kekhawatiran akan krisis kemanusiaan, dunia internasional kini dihadapkan pada desakan untuk bertindak agar situasi ini tidak semakin parah.
