banner 728x250

Ekonomi Banten Tancap Gas 5,64% di Awal 2026, Pertanian Melejit dan Pengangguran Menyusut

Pertumbuhan ekonomi Banten melampaui nasional, didorong sektor pertanian dan jasa, namun pekerjaan informal masih mendominasi.

Infografis ekonomi Banten triwulan I 2026 menunjukkan pertumbuhan 5,64 persen, didorong sektor pertanian, industri, serta penurunan pengangguran
Infografis kinerja ekonomi Provinsi Banten pada triwulan I 2026. Pertumbuhan mencapai 5,64 persen, melampaui nasional, dengan sektor pertanian sebagai pendorong utama serta penurunan tingkat pengangguran menjadi 6,59 persen.
banner 120x600
banner 468x60

berandaPeristiwa,- Provinsi Banten membuka tahun 2026 dengan capaian ekonomi yang mencuri perhatian. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 5,64 persen secara tahunan, sedikit di atas rata-rata nasional yang berada di angka 5,61 persen.

Kepala BPS Banten, Yusniar Juliana, menegaskan bahwa tren positif ini juga terlihat dari pergerakan triwulanan. “Ekonomi Banten juga mengalami ekspansi 1,01 persen secara triwulanan (q-to-q),” ujarnya.

Nilai ekonomi daerah pun melonjak. PDRB Banten mencapai Rp247,20 triliun atas dasar harga berlaku, menandakan aktivitas ekonomi terus bergerak aktif di berbagai sektor.


Pertanian Melonjak, Aktivitas Masyarakat Ikut Menguat

Sektor pertanian tampil sebagai bintang utama. BPS mencatat pertumbuhan sektor ini mencapai 17,88 persen, tertinggi dibanding sektor lainnya.

“Lonjakan ini dipengaruhi musim panen dan peningkatan aktivitas produksi,” kata Yusniar.

Selain itu, sektor yang berkaitan dengan mobilitas masyarakat juga ikut melesat. Akomodasi dan makan minum tumbuh 15,29 persen, sementara transportasi dan pergudangan naik 13,84 persen.

Kenaikan ini menunjukkan peningkatan konsumsi masyarakat, geliat pariwisata, serta distribusi logistik yang semakin aktif di awal tahun.


Pengangguran Turun, Lapangan Kerja Bertambah

Dampak positif pertumbuhan ekonomi langsung terasa di sektor ketenagakerjaan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 6,59 persen pada Februari 2026.

Jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 5,83 juta orang. Artinya, sekitar 26 ribu orang berhasil masuk ke dunia kerja dibanding tahun sebelumnya.

Sektor pertanian kembali menjadi penyelamat dengan menyerap tambahan sekitar 99 ribu tenaga kerja. Sementara itu, sektor perdagangan dan industri tetap menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja.


Di Balik Kabar Baik, Ada Catatan Penting

Meski angka pengangguran turun, kualitas pekerjaan belum sepenuhnya membaik. Proporsi pekerja formal justru menurun menjadi 52,19 persen.

Kondisi ini menunjukkan masih banyak tenaga kerja yang bergantung pada sektor informal yang cenderung tidak stabil.

Namun, ada kabar baik dari sisi jam kerja. Sebanyak 78,40 persen pekerja kini bekerja penuh waktu, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.


PR Besar: Menciptakan Pekerjaan Berkualitas

Yusniar menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi sudah mulai berdampak nyata, tetapi belum merata sepenuhnya.

“Kuatnya sektor pertanian, meningkatnya aktivitas jasa seperti akomodasi dan transportasi, serta stabilnya sektor perdagangan dan industri menjadi faktor utama,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa pekerjaan rumah terbesar saat ini adalah meningkatkan kualitas tenaga kerja.
“Perluasan sektor formal masih menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi semakin inklusif dan berkelanjutan,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *