berandaPeristiwa,- Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) langsung tertekan saat pasar dibuka. Investor merespons cepat kebijakan baru pemerintah dengan aksi jual masif. Harga saham GOTO turun 7,41% dan menyentuh level Rp50 per saham, sekaligus mencapai batas auto rejection bawah (ARB).
Aktivitas perdagangan melonjak signifikan. Volume transaksi mencapai 15,73 juta saham dengan frekuensi 36,54 kali. Nilai transaksi menyentuh Rp1,7 triliun dan menjadikan GOTO sebagai saham paling aktif hari itu. Kapitalisasi pasar tercatat sekitar Rp58,17 triliun.
Kebijakan Prabowo Ubah Peta Bisnis
Presiden Prabowo Subianto resmi menandatangani Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026. Kebijakan ini mengatur perlindungan pengemudi transportasi online sekaligus mengubah skema pembagian pendapatan.
“Saya telah tanda tangan Peraturan Presiden Nomor 27 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online,” ujar Prabowo.
Ia menegaskan bahwa pengemudi kini akan menerima porsi lebih besar. “Pembagian pendapatan dari 80% untuk pengemudi sekarang menjadi minimal 92% untuk pengemudi,” katanya.
Pemerintah juga mendorong peningkatan perlindungan sosial. “Harus diberi jaminan kecelakaan kerja, akan diberi BPJS Kesehatan, asuransi kesehatan,” tambahnya.
Respons Cepat Manajemen GOTO
Direktur Utama GOTO, Hans Patuwo, menyatakan perusahaan segera mempelajari dampak aturan tersebut.
“Saat ini kami akan melakukan pengkajian untuk memahami detail, implikasi dan penyesuaian yang diperlukan,” ujarnya.
Ia memastikan perusahaan tetap berkomitmen menjalankan regulasi. “Kami akan terus berkoordinasi agar GoTo dapat terus memberi manfaat, terutama bagi mitra driver dan pelanggan,” lanjutnya.
Kinerja Positif Tertutup Sentimen Negatif
Sebelum tekanan ini muncul, GOTO mencatatkan kinerja yang solid. Perusahaan membukukan laba bersih Rp171 miliar pada kuartal I 2026. Angka ini berbalik dari rugi Rp367 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
EBITDA grup yang disesuaikan mencapai Rp907 miliar. Manajemen menargetkan EBITDA tahunan di kisaran Rp3,2 hingga Rp3,4 triliun.
Namun, kebijakan baru pemerintah memicu kekhawatiran terhadap margin bisnis. Investor menilai perubahan skema pendapatan berpotensi menekan profitabilitas sektor ride hailing dalam jangka pendek.

















