banner 728x250

Lonjakan Harga Elpiji 12 Kg Bikin Kelas Menengah Tertekan, Warga: “Kami di Tengah, Tapi Paling Kena”

Kenaikan harga elpiji 12 kg di berbagai daerah memicu keluhan warga kelas menengah yang merasa semakin terhimpit di tengah lonjakan kebutuhan hidup.

Seorang perempuan terlihat kaget melihat struk harga elpiji 12 kg di depan tumpukan tabung gas dengan papan informasi kenaikan harga Rp 228.000.
Warga memeriksa harga elpiji 12 kg yang mengalami kenaikan di salah satu agen penjualan. Lonjakan harga ini memicu keluhan, terutama dari kalangan kelas menengah yang terdampak langsung kenaikan biaya kebutuhan rumah tangga.
banner 120x600
banner 468x60

berandaPeristiwa,- Kenaikan harga energi kembali menekan masyarakat. Setelah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi naik, kini harga elpiji 12 kilogram ikut melonjak di berbagai daerah.

Data dari Pertamina Patra Niaga menunjukkan harga elpiji 12 kg per 18 April 2026 berada di kisaran Rp 228.000 hingga Rp 238.000. Di wilayah Jawa dan Bali, harga rata-rata menyentuh Rp 228.000 per tabung.

Sementara itu, harga tertinggi muncul di Tarakan, Kalimantan Utara yang mencapai Rp 265.000. Wilayah Maluku dan Papua bahkan mencatat harga hingga Rp 285.000. Padahal sebelumnya, masyarakat masih bisa membeli elpiji 12 kg di kisaran Rp 192.000.


Kelas Menengah Mulai Terjepit

Kenaikan ini langsung memukul kelompok kelas menengah. Mereka menjadi pengguna utama elpiji nonsubsidi, tetapi tidak memiliki akses ke gas subsidi.

Sari (25), warga Tangerang, mengaku kaget saat mengetahui harga terbaru. Ia menegaskan bahwa pengguna elpiji 12 kg bukan hanya kalangan atas.
“Memang yang pakai gas 12 kg mampu, tapi bukan orang kaya. Banyak golongan tengah, dibilang miskin sih tidak, dibilang kaya apalagi, jadi kaget juga pas kebetulan saya mau beli ini,” ujarnya.

Menurut Sari, harga terakhir yang ia bayar masih sekitar Rp 200.000. Kenaikan saat ini membuatnya mulai mempertimbangkan alternatif lain.


Sulit Beralih ke Gas Subsidi

Sari ingin beralih ke elpiji 3 kg agar pengeluaran lebih ringan. Namun, ketersediaan gas subsidi di wilayahnya terbatas.

“Sebelumnya beli Rp200.000, mau nambah berapa lagi? Mau banget sih balik ke 3 kg. Di satu sisi paham lah lagi krisis, tapi jangan nyusahin rakyat juga,” katanya.

Ia memahami situasi global yang memicu kenaikan harga. Namun, ia berharap kebijakan yang diambil tetap mempertimbangkan kondisi masyarakat.


Beban Rumah Tangga Kian Berat

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada gas. Sari juga merasakan lonjakan pada kebutuhan lain seperti plastik dan BBM nonsubsidi. Kondisi ini membuat pengeluaran semakin sulit dikendalikan.

“Mau berhenti beli gas, jadinya beli makan aja. Eh tapi plastiknya mahal, kanan kiri kena deh,” ujarnya.

Keluhan serupa datang dari Bagus (31). Ia menilai kenaikan bertahap masih bisa diterima, tetapi lonjakan berulang akan memperberat kondisi ekonomi rumah tangga.
“Kalau naik sedikit mungkin masih bisa ditoleransi, tapi kalau terus-terusan naik ya berat juga. Kami ini di tengah-tengah. Tidak pakai subsidi, tapi jangan naikin harga terus-terusan,” katanya.


Daya Beli Terancam Melemah

Kondisi ini menempatkan kelas menengah dalam posisi sulit. Mereka tidak menikmati subsidi, tetapi tetap terkena dampak kenaikan harga pasar. Jika tren ini berlanjut, daya beli masyarakat berpotensi melemah dan menekan stabilitas ekonomi rumah tangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *