banner 728x250

Rupiah Melemah ke Rp17.127 per Dolar AS, Apindo Ungkap Dampak Serius ke Industri dan Ancaman PHK

Pelemahan rupiah ke level Rp17.127 per dolar AS memicu tekanan pada importir, membuka peluang bagi eksportir, serta meningkatkan kekhawatiran gelombang PHK di tengah derasnya produk impor.

Rupiah Kembali Tertekan di Penutupan Perdagangan
banner 120x600
banner 468x60

berandaPeristiwa,- Nilai tukar rupiah menutup perdagangan Selasa (14/4) di zona merah. Data Bloomberg mencatat rupiah turun 22 poin atau 0,13 persen ke level Rp17.127 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan ini memperpanjang tren pelemahan yang mulai mengganggu stabilitas dunia usaha.

Importir Terpukul, Eksportir Justru Diuntungkan

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, menilai pelemahan rupiah memberi dampak berbeda bagi pelaku usaha. Ia menegaskan importir menghadapi tekanan lebih besar, sementara eksportir justru menikmati keuntungan kurs.

banner 325x300

“Ya pastilah, ya kan. Tapi kan kayak begitu, yang importir akan tertekan, yang eksportir ya happy gitu loh dengan Rp 17.000, ya. Tapi kita harus antisipasilah segala bentuk kemungkinan,” kata Bob di Kompleks Parlemen RI.

Kondisi ini menciptakan ketimpangan di sektor industri. Pelaku usaha berbasis impor harus menanggung biaya lebih tinggi, sedangkan eksportir mendapat margin lebih besar dari selisih kurs.

Peluang Investasi Terbuka, Tapi Risiko Membayangi

Bob melihat pelemahan rupiah juga membuka peluang strategis. Ia menyebut kondisi ini bisa menarik investor asing, khususnya pada sektor berorientasi ekspor.

“Justru saya mendengar dengan rupiah yang melemah ini, kita menjadi atraktif untuk investasi masuk, terutama yang orientasi ekspor. Karena rupiah lemah. Cuma jangan sampai rupiah lemah ini justru membuat ongkos mahal,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan pemerintah dan pelaku industri agar tidak mengabaikan risiko kenaikan biaya produksi. Ketergantungan terhadap dolar AS masih menjadi persoalan utama.

Biaya Domestik Berbasis Dolar Jadi Sorotan

Bob menyoroti praktik penggunaan dolar AS dalam layanan domestik, termasuk di sektor pelabuhan. Ia menilai kondisi ini memperberat beban pelaku usaha saat rupiah melemah.

“Misalnya pelabuhan masih pakai USD gitu loh. Kita sudah pakai rupiah, yang lain-lain masih pakai dolar. Nah, ini yang harus kita perbaiki,” tegasnya.

Ia meminta adanya pembenahan agar transaksi dalam negeri sepenuhnya menggunakan rupiah. Langkah ini dinilai bisa menekan biaya dan menjaga daya saing industri nasional.

Ancaman PHK Mulai Terasa

Tekanan kurs dan derasnya produk impor mulai berdampak pada tenaga kerja. Bob mengakui kekhawatiran terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) kini bukan sekadar potensi.

“Jadi yang kita khawatirkan sudah terjadi,” katanya.

Kondisi ini menuntut respons cepat dari pemerintah. Tanpa langkah konkret, tekanan terhadap industri berisiko memicu gelombang PHK yang lebih luas.

Pemerintah Diminta Prioritaskan Industri Lokal

Bob mendesak pemerintah untuk memperkuat keberpihakan pada industri dalam negeri. Ia menilai sektor lokal mampu menciptakan efek berganda yang lebih besar bagi perekonomian.

“Justru sekarang bagaimana mereka yang PHK bisa dapat pekerjaan secepat-cepatnya. Kita berharap pemerintah ada keberpihakan untuk industri dalam negeri,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan meningkatnya penggunaan produk impor di tengah kampanye penggunaan produk lokal.

“Saya juga heran, kenapa terjadi seperti itu? Bahkan Presiden sering bilang kalau harga mahal dikit, kita milih produk dalam negeri,” tuturnya.

Fokus pada Sektor dengan Multiplier Effect

Bob mendorong pemerintah mengarahkan belanja domestik ke sektor yang memiliki dampak luas, termasuk industri yang melibatkan UMKM dan menyerap banyak tenaga kerja.

“Lebih banyak dibelanjakan sama negeri, terutama yang punya multiplier efek. Yang punya supply chain sampai ke UMKM, yang pakai karyawan sendiri, yang berorientasi ekspor, itu yang harus dikasih prioritas,” katanya.

Pelemahan rupiah saat ini tidak hanya memengaruhi pasar keuangan, tetapi juga langsung menyentuh industri dan tenaga kerja. Tanpa strategi yang tepat, tekanan ini berpotensi meluas ke sektor riil dan memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *