banner 728x250

Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Ini Jejak Krisis hingga Pernyataan Menkeu soal Kondisi Ekonomi RI

emerintah meminta masyarakat tidak panik setelah rupiah menyentuh Rp17.600 per dolar AS. Tekanan geopolitik global dan suku bunga tinggi The Fed menjadi pemicu utama pelemahan mata uang Garuda.

Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Pemerintah Pastikan Ekonomi RI Tak Seperti Krisis 1998
Ilustrasi Rupiah dan Dolar
banner 120x600
banner 468x60

berandaPeristiwa,- Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Mei 2026. Angka tersebut tercatat sebagai titik terlemah rupiah sepanjang sejarah perdagangan mata uang Indonesia dan memunculkan kekhawatiran baru terhadap kondisi ekonomi nasional.

Pelemahan rupiah kali ini terjadi di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, serta kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS atau The Fed yang terus menekan arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski demikian, pemerintah memastikan kondisi ekonomi nasional saat ini masih jauh lebih kuat dibandingkan saat krisis moneter 1998.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik menghadapi tekanan terhadap mata uang Garuda. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid untuk menghadapi gejolak global.

“Tidak perlu panik karena fondasi ekonomi kita bagus. Kami tahu titik lemahnya dan itu bisa diperbaiki. Kondisinya tidak akan separah krisis 1998,” kata Purbaya di Kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Jumat (16/5/2026).

Perjalanan Panjang Rupiah dari Era Orde Baru

Perjalanan rupiah terhadap dolar AS memang penuh dinamika sejak awal kemerdekaan. Ketergantungan impor bahan baku, perubahan kebijakan moneter global, hingga ketidakpastian politik dunia menjadi faktor yang kerap memicu pelemahan nilai tukar.

Salah satu momentum penting terjadi pada era pemerintahan Orde Baru. Pada 23 Agustus 1971, pemerintah melakukan devaluasi rupiah dari Rp378 menjadi Rp415 per dolar AS. Kebijakan itu diambil setelah AS menghentikan konversi dolar terhadap emas, yang kemudian mengubah sistem keuangan global.

Namun, periode paling berat terjadi saat krisis finansial Asia 1997-1998. Saat itu, rupiah yang sebelumnya stabil di kisaran Rp2.500 per dolar AS jatuh drastis hingga mencapai Rp16.800 per dolar AS pada Juni 1998.

Krisis tersebut mengguncang dunia usaha nasional, memicu lonjakan inflasi, dan menyebabkan banyak perusahaan kolaps akibat utang luar negeri yang membengkak.

Era Habibie hingga SBY Sempat Stabilkan Rupiah

Pada masa transisi reformasi, Presiden ke-3 RI B. J. Habibie berhasil membawa rupiah kembali menguat ke level sekitar Rp6.500 per dolar AS pada pertengahan 1999. Penguatan itu menjadi salah satu capaian terbesar dalam pemulihan ekonomi pasca krisis.

Stabilitas nilai tukar kemudian relatif terjaga pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Rupiah bergerak di kisaran Rp9.000 hingga Rp10.000 per dolar AS, bahkan saat dunia menghadapi krisis finansial global 2008.

Tekanan kembali muncul pada era Presiden Joko Widodo. Rupiah menembus level psikologis Rp15.000 per dolar AS pada 2015 dan kembali tertekan ketika pandemi Covid-19 melanda dunia pada 2020.

Kini, di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, tantangan baru datang dari konflik geopolitik global dan ketidakpastian ekonomi internasional.

Meski rupiah sempat menyentuh level terlemah, pemerintah tetap optimistis. Cadangan devisa yang stabil, konsumsi domestik yang kuat, serta kinerja ekspor dinilai masih menjadi bantalan utama ekonomi Indonesia menghadapi tekanan global yang terus meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *