berandaPeristiwa,- Hipertensi masih menjadi salah satu penyakit kronis dengan jumlah penderita tinggi di Indonesia. Penyakit ini dikenal sebagai silent killer karena banyak penderita tidak menyadari kondisinya hingga muncul komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, bahkan kematian mendadak.
Dokter RSUD SSMA Kota Pontianak, Nihayatus Solikhah, mengatakan hipertensi dapat berkembang selama bertahun-tahun tanpa tanda yang jelas.
“Seseorang dapat mengalami hipertensi selama bertahun-tahun tanpa keluhan berarti,” ujar Nihayatus.
Menurutnya, banyak orang menganggap sakit kepala, pusing, atau mudah lelah sebagai masalah ringan. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi tanda tekanan darah tidak terkontrol.
Gaya Hidup Tidak Sehat Jadi Pemicu Utama
Nihayatus menjelaskan pola hidup tidak sehat menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus hipertensi, terutama pada usia produktif.
“Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji tinggi garam dan lemak, kurang aktivitas fisik, begadang, stres berlebihan, serta merokok menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan,” katanya.
Ia mengimbau masyarakat mulai menjalani pola hidup sehat dengan menjaga pola makan, rutin berolahraga, mengelola stres, serta melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala.
“Dengan deteksi awal, risiko komplikasi dapat ditekan melalui perubahan gaya hidup sehat seperti menjaga pola makan, berolahraga teratur, mengelola stres, serta mengikuti anjuran pengobatan dari tenaga medis,” jelasnya.
Informasi serupa juga dijelaskan dalam artikel kesehatan Halodoc yang menyebut hipertensi sebagai penyakit berbahaya karena sering muncul tanpa gejala khas. Artikel yang ditinjau dr. Fauzan Azhari SpPD itu menyebut tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan kerusakan organ tubuh.
Penyakit Penyerta Pengaruhi Efektivitas Obat
Apoteker RSUD SSMA Kota Pontianak, Bonita Dwi Anggreini, menuturkan keberhasilan terapi hipertensi tidak hanya bergantung pada kepatuhan pasien mengonsumsi obat. Penyakit penyerta seperti diabetes, gangguan ginjal, dan penyakit jantung juga memengaruhi efektivitas pengobatan.
“Obat hipertensi dapat berinteraksi dengan obat-obat lain seperti obat diabetes, obat lambung, maupun obat jantung,” ujar Bonita.
Ia menjelaskan interaksi obat dapat menurunkan efektivitas terapi atau meningkatkan risiko efek samping. Karena itu, pasien perlu menyampaikan riwayat penyakit serta obat yang dikonsumsi saat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Bonita menambahkan pasien dengan gangguan ginjal memerlukan penyesuaian dosis obat tertentu agar fungsi ginjal tidak semakin menurun. Sementara penderita diabetes membutuhkan pemilihan obat hipertensi yang sesuai dengan kondisi gula darah.
Kolaborasi Tenaga Medis Bantu Kendalikan Hipertensi
Bonita menekankan pentingnya kolaborasi antara dokter dan apoteker dalam memantau kondisi pasien hipertensi. Komunikasi yang baik antara tenaga kesehatan dan pasien dinilai mampu meningkatkan keberhasilan terapi.
“Dengan pengelolaan terapi yang tepat dan komunikasi yang baik antara tenaga kesehatan dan pasien, pengobatan hipertensi dapat berjalan lebih aman dan efektif,” pungkasnya.

















