banner 728x250

Viral! Film Dokumenter ‘Pesta Babi’ Picu Polemik Nasional Usai Nobar di Kampus Dibubarkan

Dokumenter karya investigatif tentang masyarakat adat Papua Selatan memicu perdebatan luas soal kebebasan akademik, proyek strategis nasional, hingga konflik lingkungan dan budaya.

Viral! Film Pesta Babi Tuai Kontroversi Usai Nobar Kampus Dibubarkan
banner 120x600
banner 468x60

berandaPeristiwa,- Film dokumenter Pesta Babi mendadak menjadi perhatian publik setelah sejumlah agenda nonton bareng (nobar) di kampus dibubarkan. Peristiwa itu memicu perdebatan luas di media sosial dan lingkungan akademik.

Banyak mahasiswa, aktivis, dan pegiat demokrasi mempertanyakan alasan penghentian pemutaran film yang mengangkat isu sosial dan lingkungan di Papua Selatan. Mereka menilai kampus seharusnya menjadi ruang terbuka untuk diskusi ilmiah dan pertukaran gagasan.

Kasus yang paling ramai terjadi di Universitas Mataram pada 7 Mei 2026. Pihak kampus menghentikan agenda nobar dengan alasan menjaga kondusivitas.

“Keputusan itu diambil demi menjaga situasi tetap kondusif,” ujar pihak kampus melalui Wakil Rektor III, Sujita.

Kontroversi tersebut kemudian berkembang menjadi isu nasional dan memancing diskusi soal kebebasan akademik di Indonesia.


Apa Itu Film Pesta Babi?

Pesta Babi merupakan film dokumenter investigatif karya Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale.

Film ini menyoroti kehidupan masyarakat adat di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, Papua Selatan. Dokumenter tersebut mengangkat dampak proyek strategis nasional (PSN), pembukaan lahan pangan, serta industri bioenergi berskala besar terhadap masyarakat lokal.

Sejak awal film, penonton langsung melihat hubungan erat masyarakat adat dengan hutan dan alam Papua. Dokumenter kemudian memperlihatkan perubahan sosial yang muncul akibat ekspansi pembangunan dan pembukaan kawasan industri.

Film juga mengangkat keresahan warga terkait hilangnya hutan adat, perubahan pola hidup, hingga ancaman terhadap budaya lokal.

“Kerusakan hutan bukan cuma berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam budaya dan identitas masyarakat adat,” menjadi pesan utama yang disampaikan film tersebut.


Makna Judul ‘Pesta Babi’

Judul Pesta Babi berasal dari tradisi masyarakat Muyu bernama Awon Atatbon. Ritual adat itu menjadikan babi sebagai simbol sosial, budaya, dan penghormatan terhadap leluhur.

Bagi masyarakat Papua, babi memiliki nilai penting dalam kehidupan adat. Karena itu, hilangnya hutan ikut mengancam keberlangsungan tradisi masyarakat lokal.

Film memakai istilah “Pesta Babi” sebagai metafora atas perubahan besar yang terjadi di Papua Selatan akibat pembangunan dan pembukaan lahan dalam skala luas.


Kenapa Film Ini Menuai Kontroversi?

Film Pesta Babi memicu pro dan kontra karena mengangkat isu yang sensitif dan kompleks.

Dokumenter tersebut secara terbuka menyoroti proyek strategis nasional pemerintah di Papua Selatan. Film juga membahas eksploitasi sumber daya alam, konflik ruang hidup masyarakat adat, hingga pengamanan proyek oleh aparat.

Beberapa pihak menilai isi film terlalu politis dan berpotensi memicu keresahan publik. Namun, aktivis lingkungan dan pegiat HAM justru melihat film tersebut sebagai bentuk advokasi bagi masyarakat adat Papua.

Kontroversi semakin meluas setelah laporan penghentian pemutaran film muncul di sejumlah daerah seperti Mataram, Ternate, hingga Yogyakarta.


Ruang Diskusi dan Kebebasan Akademik

Pembubaran nobar Pesta Babi memunculkan pertanyaan besar tentang kebebasan akademik di kampus.

Mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil menilai perguruan tinggi harus memberi ruang bagi diskusi sosial dan isu publik, termasuk film dokumenter yang mengangkat persoalan masyarakat adat.

Di sisi lain, pihak kampus mengaku mengambil langkah tersebut demi mencegah konflik dan menjaga situasi tetap aman.

Perdebatan itu membuat nama Pesta Babi semakin viral dan menjadi salah satu dokumenter Indonesia yang paling banyak diperbincangkan tahun ini.


Pesan Besar di Balik Film Pesta Babi

Terlepas dari kontroversinya, Pesta Babi membawa pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan, budaya, dan hak masyarakat adat di tengah pembangunan besar-besaran.

Film ini mengajak publik melihat Papua dari sudut pandang masyarakat lokal yang selama ini jarang mendapat perhatian di media arus utama.

Dokumenter tersebut juga mengingatkan bahwa pembangunan tidak hanya berbicara soal investasi dan ekonomi, tetapi juga menyangkut identitas budaya, ruang hidup, dan masa depan generasi masyarakat adat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *