banner 728x250

Kontroversial! Usulan Gerbong Wanita Dipindah ke Tengah KRL Dikritik, Pengamat: “Ngaco dan Tak Menyentuh Masalah Utama”

Wacana pemindahan gerbong wanita KRL memicu polemik. Pengamat menilai pemerintah perlu fokus pada keselamatan, bukan sekadar posisi gerbong.

Penumpang perempuan naik ke gerbong khusus wanita KRL di stasiun dengan papan penanda berwarna pink.
Sejumlah penumpang perempuan menaiki gerbong khusus wanita pada KRL Commuter Line di stasiun. Wacana pemindahan posisi gerbong wanita ke tengah rangkaian memicu perdebatan publik terkait aspek keselamatan dan layanan transportasi. (Sumber: Ilustrasi AI)
banner 120x600
banner 468x60

berandaPeristiwa,- Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan melontarkan kritik tajam terhadap usulan Menteri PPPA Arifah Fauzi terkait pemindahan gerbong khusus perempuan ke bagian tengah rangkaian KRL. Ia menilai gagasan tersebut tidak relevan dan tidak menyentuh persoalan utama.

“Pernyataan Menteri PPPA itu ngaco ya, menurut saya, dan enggak perlu ditanggapi,” ujar Azas, Rabu (29/4/2026). Ia menegaskan, pemerintah tidak perlu menjadikan wacana tersebut sebagai dasar kebijakan.

Posisi Gerbong Bukan Faktor Keselamatan

Azas menilai posisi gerbong tidak berkaitan langsung dengan keselamatan penumpang. Ia menekankan bahwa pemerintah harus memprioritaskan sistem keselamatan yang menyeluruh sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007.

“Di Pasal 3-nya itu dikatakan bahwa penyelenggaraan perkeretaapian dilakukan dengan berkeselamatan, aman, dan nyaman. Jadi persoalannya bukan posisi gerbong,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa operator menempatkan gerbong wanita di lokasi tertentu hanya untuk kepentingan teknis. Strategi ini membantu pengawasan dan memudahkan penumpang mengenali gerbong khusus perempuan. “Itu hanya strategi aja… supaya mudah diawasi dan penumpang juga bisa tahu dengan cepat,” ujarnya.

Sorotan pada Sistem dan Manajemen

Azas mengaitkan polemik ini dengan kecelakaan kereta di Bekasi Timur. Ia melihat insiden tersebut sebagai bukti lemahnya sistem keselamatan dan manajemen perkeretaapian.

Ia mendesak pemerintah untuk bertindak tegas. “Pemerintah harus tanggung jawab atas kejadian ini… lakukan audit, ganti manajemen PT KAI oleh figur yang profesional dan berintegritas,” tegasnya.

Latar Belakang Usulan Menteri PPPA

Menteri PPPA Arifah Fauzi mengusulkan pemindahan gerbong wanita ke bagian tengah setelah insiden tabrakan di Bekasi Timur. Ia menilai posisi ujung rangkaian lebih berisiko, terutama bagi kelompok rentan.

“Jadi yang laki-laki di ujung. Yang depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah,” kata Arifah.

Fakta Insiden Bekasi Timur

Tabrakan terjadi antara KRL jurusan Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi pada Senin malam. Insiden di emplasemen Stasiun Bekasi Timur tersebut menewaskan 14 penumpang KRL hingga Selasa pagi.

Ratusan korban luka menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Bekasi. Sementara itu, 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *